
SATU HATI SATU PERAHU
Diceritakan oleh: Sahdan Haq
Malam Rabu itu langit begitu bersih. Bintang-bintang menari di atas langit Indramayu, seolah ikut mengaminkan setiap ayat yang keluar dari bibir para santri dan jamaah yang baru saja selesai mengikuti pengajian rutin di Masjid Miftahul Huda.
Aku, Sahdan, duduk bersila di serambi masjid, masih menyimak sisa-sisa obrolan ringan selepas pengajian. Beberapa jamaah mulai pulang, namun ada juga yang masih berkumpul. Tak lama kemudian, sosok yang kami hormati, Kyai Karim, datang menghampiri dengan senyum khasnya, tenang dan menenangkan.
Yang unik malam itu, beliau datang dengan membawa joran pancing!
“Gimana kabarnya para ahli surga yang suka mancing?” tanya Kyai dengan canda khasnya, membuat kami tertawa.
“Ahli surga kok tukang mancing, Kyai?” celetuk Pak Jono, si tambun yang paling cerewet soal umpan.
“Lho, siapa tahu... surga kan luas, bisa aja ada danau khusus untuk para pemancing,” jawab Kyai santai. Kami pun meledak dalam tawa.
Rupanya malam ini adalah malam yang telah kami rencanakan sejak seminggu lalu. Setelah pengajian, kami hendak memancing di laut utara Indramayu. Spotnya sudah ditentukan, perahunya sudah dipesan. Kami yang ikut: aku (Sahdan), Pak Jono, Pak Umar, Pak Wahid, dan Pak Hasan, lima orang jamaah. Ditambah Kyai Karim sebagai "pemimpin rombongan", total enam orang.
Tapi rencana manis seringkali diuji Tuhan dengan pahitnya emosi manusia.
Di halaman masjid, aku melihat Pak Hasan dan Pak Wahid sedang ribut soal alat pancing. Ya, alat pancing! Dua orang sepuh ini seperti anak kecil rebutan mainan.
“Aku udah bilang, kalau mancing di laut itu lebih manjur pakai umpan hidup, bukan pelet!” bentak Pak Wahid, wajahnya memerah.
“Kamu itu keras kepala! Pelet ini udah aku uji di lima spot, hasilnya bagus!” timpal Pak Hasan tak kalah nyaring.
Aku mendekat, mencoba melerai.
“Sudah, Pak. Ikan laut itu nggak peduli umpan kita siapa. Mereka tuh gak pake polling!”
Pak Jono malah nyeletuk, “Ikan laut aja bingung, ini yang mau mancing siapa yang mau berantem sih?”
Tapi suasana terlanjur panas. Pak Hasan mendadak meletakkan jorannya ke tanah, mendengus, lalu berjalan pergi.
“Sudah, saya nggak ikut! Mancingnya sama emosi aja sana!”
Kami saling pandang. Rencana nyaris batal.
Namun Kyai Karim tetap tenang. Ia hanya berkata, “Biarkan dulu. Kadang orang perlu sendiri dulu untuk menurunkan ego.”
Setelah beberapa menit hening, akhirnya kami berlima naik ke perahu kecil milik Pak Darto di dermaga. Mesin diesel tua menderu seperti suara sapi sakit, namun cukup kuat untuk membawa kami ke tengah laut.
Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menit. Langit semakin pekat, hanya lampu-lampu kecil dari kampung terlihat seperti kunang-kunang di kejauhan. Angin laut meniup rambut kami, membawa bau asin dan juga rindu.
Pak Jono sibuk merangkai kail, Pak Umar melamun, Pak Wahid masih manyun karena emosi belum sepenuhnya reda.
Aku? Sibuk bertanya dalam hati: “Kenapa sih orang bisa ribut cuma gara-gara pelet ikan?”
Perahu kecil itu kelak kelok menghindari jaring nelayan yang tersebar di beberapa area. Ombak malam itu tidak terlalu besar namun cukup membuat pemula mabuk laut.
Saat kami sampai di spot yang dituju, mesin dimatikan. Sunyi. Hanya suara ombak dan sesekali burung laut.
Tiba-tiba, Kyai Karim mengeluarkan ponsel dari sakunya. Menelpon seseorang.
“Assalamu’alaikum, Hasan. Gimana kabarnya?” tanya Kyai lembut.
Terdengar suara Pak Hasan di ujung sana, agak tercekat.
“Wa’alaikumussalam, Kyai, saya.. malu. Tapi saya… saya pengen ikut. Saya nyesel.”
Kyai menatap kami, lalu berdiri.
“Anak-anak, kita balik ke dermaga. Jemput Hasan.”
Seketika, wajah Pak Wahid mengkerut.
“Lho Kyai, ini kita udah sampai. Mau mancing atau bolak-balik mancing orang, nih?”
“Betul, Kyai. Sayang waktunya. Lagi pula, dia yang milih pergi,” kata Pak Jono sambil menyalakan rokok (yang langsung dimatikan lagi karena Kyai hanya melirik sebentar, cukup tajam).
Kyai hanya tersenyum. Lalu duduk, menatap ke laut.
“Kalian tahu, dada manusia itu seperti kursi. Kadang Allah duduk di sana, maka lahirlah ketenangan. Tapi kadang setan yang duduk, maka yang muncul adalah ego dan amarah.”
Kami terdiam.
“Kita ini sedang satu perahu, satu tujuan. Apa artinya umpan terbaik, spot terbaik, jika hati kita retak? Bahkan Wali Songo pun dalam musyawarah pernah berbeda pendapat. Tapi mereka saling merendah, lalu memaafkan. Kita ini siapa, kok merasa pantas menyimpan marah lebih lama?” ujar Kyai.
Tanpa menunggu persetujuan lagi, Kyai memberi isyarat pada Pak Darto. Mesin diesel kembali meraung. Kami pun kembali ke dermaga.
Pak Hasan sudah berdiri di sana, joran di tangan, tapi wajahnya murung. Begitu melihat kami datang, dia menunduk dalam-dalam.
“Saya minta maaf… Saya malu, Kyai…”
Kyai turun dari perahu, menghampiri, dan langsung memeluknya.
“Maaf itu bukan untuk orang lemah. Tapi untuk orang yang cukup kuat menundukkan dirinya sendiri.”
Pak Hasan menangis. Dan kami semua... ikut diam, tersentuh.
Perjalanan kedua malam itu seakan terasa lebih ringan. Kami mancing bersama, tertawa, saling ejek soal umpan siapa yang paling ampuh.
Ikan? Hanya sedikit yang kami dapat. Tapi tak ada yang kecewa. Malam itu, kami pulang bukan membawa hasil tangkapan, tapi membawa hati yang lebih lapang.
~ Tamat ~
Hikmah di Balik Cerita:
Setiap manusia pernah tersulut emosi. Bahkan orang yang taat ibadah pun bisa marah, kecewa, dan merasa benar sendiri. Tapi yang membedakan orang beriman adalah bagaimana ia merespons emosi itu.
Kisah sederhana ini mengajarkan bahwa:
- Kebersamaan itu tidak cukup hanya dengan tujuan yang sama, tapi juga dengan hati yang saling memaafkan.
- Kita tidak sedang berlomba menjadi yang paling benar, tapi sedang belajar menjadi pribadi yang lebih sabar.
- Dan dalam satu perahu kehidupan, kita harus siap untuk menjemput yang tertinggal, bukan meninggalkannya.
Karena sesungguhnya, sebagaimana kata Kyai Karim malam itu:
“Perjalanan paling jauh dalam hidup ini... adalah perjalanan menaklukkan hati sendiri.”
Penulis: Sahdan Haq
0 Comments